IKATAN BIDAN INDONESIA

JAWA BARAT

MCCI

PRIHAL

Ikatan Bidan Indonesia bersama para anggotanya berkomitmen mengambil bagian dan mendukung Pemerintah Indoneisa untuk meningkatkan cakupan immunisasi campak ini menjadi 80,5% pada Maret 2009 melalui kerjasama dengan MCCI/IP. Peran Bidan besar dalam pemberian immunisasi, dari masa bayi baru lahir s/d balita hingga pra sekolah melatar belakangi hal ini. Pemberian informasi dan konseling tentang immunisasi telah menjadi tugas yang melekat pada diri bidan sebagai bagian dalam mendidik masyarakat, khususnya ibu-ibu dan keluarganya (Kepmenkes No.900/2002-Juklak Praktek Bidan III.6). Peran tersebut terbukti dalam hasil studi Identifikasi Pemberi Informasi Mengenai Campak (2004) dimana salah satu pernyataannya Bidan merupakan salah satu key resource dalam pemberian informasi tentang immunisasi.

Saat ini Indonesia menghadapi masalah kematian anak yang masih tinggi. Diperkirakan 30.000 anak meninggal setiap 20 menit (Unicef, Februari 2007) dan pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menurunkan kematian tersebut melalui berbagai upaya.

Salah satu upaya yang dilaksanakan adalah melalui akselerasi peningkatan cakupan imunisasi dasar bagi bayi yang didukung oleh Program Millenium Challenge Corporation Indonesia/Immunization Project (MCCI/IP) yang dimulai pertengahan tahun 2007

Ikatan Bidan Indonesia mendukung secara aktif upaya tersebut dan menjadi salah satu komponen pelaksana program ‘Peningkatan Cakupan dan Mutu Pelayanan Immunisasi melalui Jalur Swasta’ di 7 Propinsi mencakup 63 Kabupaten/Kota.

Kegiatan sosialisasi tingkat propinsi & kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan tingkat Kabupaten/Kota dalam masa kerjasama Agustus 2007 – Januari 2008 telah menunjukan efektifitas yang cukup kuat untuk peningkatan cakupan imunisasi, baik bagi pemerintah dan Program MCCI/IP. Jumlah anggota IBI yang besar dan menyebar dan siap melaksanakan pelayanan imunisasi dengan pengetahuan ter-update; ditambah dengan posisi & peran para bidan yang strategis ditengah masyarakat sebagai pemberi informasi & konseling imunisasi.

Terkait manfaat yang sangat besar bagi berbagai pihak tersebut, dan adanya mobilisasi sosial oleh LSM mitra kerja MCCI/IP IBI menganggap kegiatan perlu dan penting dilanjutkan melalui jalur IBI dengan kegiatan Mobilisasi Sosial Bagi Bidan Pelaksana ditingkat Kabupaten/Kota.

LATAR BELAKANG

Kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum perlu diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945 melalui Pembangunan Nasional yang berkesinambungan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945

Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat dipengaruhi oleh tersedianya sumber daya manusia yang sehat, terampil dan ahli, serta disusun dalam satu program kesehatan dengan perencanaan terpadu yang didukung oleh data dan informasi epidemiologi yang valid.

Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit menular masih merupakan masalah, sementara penyakit degeneratif juga muncul sebagai masalah. Penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administrasi, sehingga menyulitkan pemberantasannya. Dengan tersedianya vaksin yang dapat mencegah penyakit menular tertentu, maka tindakan pencegahan untuk mencegah berpindahnya penyakit dari satu daerah atau negara ke negara lain dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat dan dengan hasil yang efektif.

Menurut Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992, ‘Paradigma Sehat’ dilaksanakan melalui beberapa kegiatan antara lain pemberantasan penyakit. Salah satu upaya pemberantasan penyakit menular adalah upaya pengebalan (imunisasi).

Penerapan Undang-Undang RI Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang RI Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah memberikan otonomi luas kepada kabupaten/kota dan otonomi terbatas pada provinsi, sehingga pemerintah daerah akan semakin leluasa menentukan prioritas pembangunan sesuai kondisi daerah. Oleh sebab itu daerah harus memiliki kemampuan mengidentifikasi masalah sampai memilih prioritas penanggulangan masalah kesehatan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan daerah, serta mencari sumber-sumber dana yang dapat digunakan untuk mendukung penyelesaian masalah. Dalam hal ini imunisasi merupakan upaya prioritas yang dapat dipilih oleh semua wilayah mengingat bahwa imunisasi merupakan upaya yang efektif dan diperlukan oleh semua daerah.

Upaya imunisasi diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1956. Upaya ini merupakan upaya kesehatan masyarakat yang terbukti paling cost effective. Dengan upaya imunisasi terbukti bahwa penyakit cacar telah terbasmi dan Indonesia dinyatakan bebas dari penyakit cacar sejak tahun 1974.

Mulai tahun 1977, upaya imunisasi diperluas menjadi Program Pengembangan Imunisasi dalam rangka pencegahan penularan terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD31) yaitu, tuberculosis, difteri, pertusis, campak, polio, tetanus serta hepatitis B.

Dengan upaya imunisasi pula, kita sudah dapat menekan penyakit polio dan sejak tahun 1995 tidak ditemukan lagi virus polio liar di Indonesia. Hal ini sejalan dengan upaya global untuk membasmi polio di dunia dengan Program Eradikasi Polio (ERAPO).

Penyakit lain yang sudah dapat ditekan sehingga perlu ditingkatkan programnya adalah tetanus maternal dan neonatal serta campak. Untuk tetanus telah dikembangkan upaya Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal (MNTE) sedang terhadap campak dikembangkan upaya Reduksi Campak (RECAM). ERAPO, MNTE dan RECAM juga merupakan komitmen global yang wajib diikuti oleh semua negara di dunia. Disamping itu, dunia juga menaruh perhatian terhadap mutu pelayanan dan menetapkan standar pemberian suntikan yang aman (safe injection practices) yang dikaitkan dengan pengelolaan limbah tajam yang aman (save waste disposal management), bagi penerima suntikan, aman bagi petugas serta tidak mencemari lingkungan.

Walaupun PD31 sudah dapat ditekan, cakupan imunisasi harus dipertahankan dan ditingkatkan hingga merata. Kegagalan untuk menjaga tingkat perlindungan yang tinggi dan merata dapat menimbulkan letusan (KLB) PD31. Untuk itu, upaya imunisasi perlu disertai dengan upaya peningkatan cakupan dan pelayanan bermutu agar setiap peningkatan kasus penyakit atau terjadinya KLB dapat terdeteksi dan segera diatasi.

Selama beberapa tahun terakhir ini, kekawatiran akan kembalinya beberapa penyakit menular dan timbulnya penyakit-penyakit menular baru kian meningkat. Penyakit-penyakit infeksi ‘baru’ oleh WHO dinamakan sebagai Emerging Infectious Diseases adalah penyakit-penyakit infeksi yang betul-betul baru (new diseases) yaitu penyakit-penyakit yang tadinya tidak dikenal (memang belum ada, atau sudah ada tetapi penyebarannya sangat terbatas; atau sudah ada tetapi tidak menimbulkan gangguan kesehatan yang serius pada manusia). Yang juga tergolong ke dalamnya adalah penyakit-penyakit yang mencuat (emerging diseases), yaitu penyakit yang angka kejadiannya meningkat dalam dua dekade terakhir ini, atau mempunyai kecenderungan untuk meningkat dalam waktu dekat, penyakit yang area geografis penyebarannya meluas, dan penyakit yang tadinya mudah dikontrol dengan obat¬obatan namun kini menjadi resisten. Selain itu, termasuk juga penyakit-penyakit yang mencuat kembali (reemerging diseases), yaitu penyakit-penyakit yang meningkat kembali setelah sebelumnya mengalami penurunan angka kejadian yang bermakna.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa program imunisasi kedalam penyelenggaraan yang bermutu dan efisien. Upaya tersebut didukung dengan kemajuan yang pesat dalam bidang penemuan vaksin baru ~otavirus, Japanese encephalitis, dan lain-lain). Beberapa jenis vaksin dapat digabung sebagai vaksin kombinasi yang terbukti dapat meningkatkan cakupan imunisasi, mengurangi jumlah suntikan dan kontak dengan petugas imunisasi.

Dari uraian diatas jelaslah bahwa upaya imunisasi perlu terus ditingkatkan untuk mencapai tingkat population imunity (kekebalan masyarakat) yang tinggi sehingga dapat memutuskan rantai penularan PD31. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi, upaya imunisasi dapat semakin efektif dan efisien dengan harapan dapat memberikan sumbangan yang nyata bagi kesejahteraan anak, ibu serta masyarakat lainnya.

Penyelenggaraan program imunisasi mengacu pada kesepakatan-kesepakatan internasional untuk pencegahan dan pemberantasan penyakit, antara lain:

  1. WHO tahun 1988 dan UNICEF melalui World Summit for Children pada tahun 1990 tentang ajakan untuk mencapai target cakupan imunisasi 80-80-80, Eliminasi Tetanus Neonatorum dan Reduksi Campak;
  2. Himbauan UNICEF, WHO dan UNFPA tahun 1999 untuk mencapai target Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal (MNTE) pada tahun 2005 di negara berkembang;
  3. Himbauan dari WHO bahwa negara dengan tingkat endemisitas tinggi > 8% pade tahun 1997 diharapkan telah melaksanakan program imunisasi hepatitis B ke dalam program imunisasi rutin;
  4. WHO/UNICEF/UNFPA tahun 1999 tentang Joint Statement on the Use of Autodisable Syringe in Immunization Services;
  5. Konvensi Hak Anak: Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak dengan Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1999 tertanggal 25 Agustus 1990, yang berisi antara lain tentang hak anak untuk memperoleh kesehatan dan kesejahteraan dasar;
  6. Resolusi Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly) tahun 1988 dan tahun 2000 yang diperkuat dengan hasH pertemuan The Eight Technical Consultative Group Vaccine Preventable Disease in SEAR tahun 2001 untuk mencapai Eradikasi Polio pada tahun 2004 untuk regional Asia Tenggara dan sertifikasi be bas polio oleh WHO tahun 2008;
  7. The Millenium Development Goal (MDG) pad a tahun 2003 yang meliputi goal 4 : tentang reduce child mortality, goal 5: tentang improve maternal health, goal 6: tentang combat HIV/AIDS, malaria and other diseases (yang disertai dukungan teknis dari UNICEF);
  8. Resolusi WHA 56.20, 28 Mei 2003 tentang Reducing Global Measles Mortality, mendesak negara-negara anggota untuk melaksanakan The WHO-UNICEF Strategic Plan for Measles Mortality Reduction 2001-2005 di negara-negara dengan angka kematian campak tinggi sebagai bagian EPI;
  9. Cape Town Measles Declaration, 17 Oktober 2003, menekankan pentingnya melaksanakan tujuan dari United Nation General Assembly Special Session (UNGASS) tahun 2002 dan World Health Assembly (WHA) tahun 2003 untuk menurunkan kematian akibat campak menjadi 50 % pada akhir tahun 2005 dibandingkan keadaan pad a tahun 1999; dan mencapai target The United Miflenium Development Goal untuk mereduksi kematian campak pada anak usia kurang dari 5 tahun menjadi 2/3 pada tahun 2015 serta mendukung The WHO/UNICEF Global Strategic Plan for Measles Mortality Reduction and Regional Elimination 2001-2005;
  10. Pertemuan The Ninth Technical Consultative Group on Polio Eradication and Polio Eradication and Vaccine Preventable Diseases in South-East Asia Region tahun 2003 untuk menyempurnakan proses sertifikasi eradikasi polio, reduksi kematian akibat campak menjadi 50% dan eliminasi tetanus neonatal, cakupan DPT3 80% di semua negara dan semua kabupaten, mengembangkan strategi untuk Safe Injections and Waste Disposal di semua negara serta memasukkan vaksin hepatitis B di dalam Program Imunisasi di semua negara;
  11. WHO-UNICEF tahun 2003 tentang Joint Statement on Effective Vaccine Store Management Initiative.

KOMPONEN 2

Jenis-jenis Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD31) Jenis-jenis penyakit yang dapat dicegah melalui pemberian imunisasi meliputi penyakit menular tertentu

  1. Jenis-jenis penyakit menular tertentu sebagaimana dimaksud meliputi antara lain penyakit Tuberculosis, Difteri, Pertusis, Campak, Polio, Hepatitis B, Hepatitis A, Meningitis meningokokus, Haemophilus influenzae tipe b, Kolera, Rabies, Japanese encephalitis, Tifus abdominalis , Rubbella, Varicella, Pneumoni pneumokokus, Yellow fever, Shigellosis, Parotitis epidemica.
  2. Jenis-jenis penyakit menular yang saat ini masuk kedalam program imunisasi adalah Tuberculosis, Difteri, Pertusis, Polio, Campak, Tetanus dan Hepatitis B.
  3. Jenis-jenis penyakit lainnya yang dengan perkembangan ilmu pengetahuan akan menjadi penyakit yang dapat dicegah melalui pemberian imunisasi akan ditetapkan tersendiri.

Sasaran Berdasarkan Usia yang Diimunisasi

  1. Imunisasi Rutin
    • Bayi (dibawah satu tahun)
    • Wanita usia subur (WUS) ialah wanita berusia 15 – 39 tahun, termasuk Ibu hamil (Bumil) dan Calon Pengantin (Catin)
    • Anak usia sekolah dasar.
  2. Imunisasi Tambahan Bayi dan anak

Sasaran Berdasarkan Tingkat Kekebalan yang Ditimbulkan

  1. Imunisasi Dasar
    • Bayi
  2. Imunisasi Lanjutan
    • Anak usia sekolah dasar
    • Wanita usia subur

Sasaran Tempat Pelayanan/Provider

  1. Seluruh fasilitas pelayanan dibawah binaan dan atau koordinasi organisasi yang berada di wilayah kerja MCCI/IP
  2. Seluruh provider di dalam jaringan dan atau koordinasi organisasi yang berada di wilayah kerja MCCI/IP yang berada di wilayah kerja MCCI/IP

Berbeda dengan pelayanan imunisasi jalur Pemerintah dimana sasaran pelayanan berbasis wilayah, sedangkan jalur swasta sasaran dibagi menjadi sasaran langsung dan sasaran tidak langsung :

  1. Langsung
    • Klien yang datang ke klinik meliputi bayi, anak sekolah SD kelas 1 sampai dengan kelas 3 dan wanita usia subur (WUS)
    • Anggota atau Kelompok masa organisasi
  2. tidak langsung
    • Pimpinan organisasi
    • Pengelola program kesehatan di setiap organisasi atau jaringan

Copyright IBI Jabar 2017